Kamis, 27 November 2014

Hati Hati! Cegukan Bisa Jadi Tanda Bahaya

Ketika sedang asyik makan tiba-tiba dengan tanpa disengaja mulut kita mengunyah cabe rawit yang pedasnya bukan alang kepalang, dan tubuh pun langsung merespon dengan suara guk-guk, itu tentunya bukan suara binatang peliharaan, tetapi suara yang biasa orang menyebutnya cegukan.

Cegukan sering terjadi pada saat atau setelah makan dan pascaoperasi, namun biasanya mereda secara spontan.

Semakin kompleks kontraksi diafragma, semakin kuat pula cegukan yang ditimbulkan.
Setiap ada sesuatu baik benda asing atau lesi yang mengiritasi diafragma, saraf frenikus, saraf spinalis lumbal atau thoracal, atau pleksus seliakus dapat menyebabkan cegukan. Cegukan ada yang biasa ditemui sehari-hari dan tergolong ringan-ringan saja, ada juga yang merupakan suatu tanda dari penyakit yang berbahaya.

Pada uremia ( misalnya pada kasus gagal ginjal kronik ), cegukan merupakan suatu tanda penyakit terminal atau pra terminal.
Cegukan juga terjadi pada kasus kanker esofagus yang lanjut.
Terkadang timbul cegukan setelah pemberian kortikosteroid intravena dosis tinggi.
Cegukan yang membandel, berlangsung selama 48 jam dan lebih sering terjadi pada pria.
Frekwensi cegukan berkisar antara 6 - 100 kali per menit.

                 

Cegukan timbul biasanya bila terjadi inspirasi ( tarik napas ) mendadak akibat spasme involunter ( kontraksi yang berulang-ulang tanpa kontrol ), refleks klonik dari otot-otot inspirasi ( diafragma, otot interkostalis dan skalenus anterior ) dengan glotis dalam keadaan tertutup.

Dalam peristiwa cegukan biasanya yang paling berperan saraf frenikus ( Nervus frenikus ), disini terjadi peningkatan rangsangan.
Saraf frenikus berperan mengontrol otot-otot diafragma dan merupakan cabang dari serabut saraf ke X ( Nervus vagus ).
Saraf vagus merupakan serabut-serabut saraf yang menuju ke organ-organ tubuh, terutama dirongga dada dan perut.
Saraf vagus selain bercabang menjadi saraf frenikus, juga memiliki cabang-cabang di saluran makanan, paru-paru, jantung, lambung, usus halus, usus besar, ginjal dan lain-lain.
Jika pada organ-organ yang melibatkan saraf frenikus ( cabang dari saraf vagus ) mendapat rangsangan yang cukup kuat dan mendadak akibatnya saraf frenikus tanpa sengaja merangsang diafragma, dan timbulah apa yang dinamakan cegukan.

Terjadinya serangan cegukan biasanya ada faktor presipitasi terutama terlalu banyak makan atau minum alkohol yang dapat menyebabkan dilatasi lambung.
Distensi lambung seringkali disertai mual, nyeri, dan kembung.
Pada cegukan yang tak mau hilang alias membandel perlu dilakukan penilaian psikologis khusus.
Pemeriksaan yang penting adalah kreatinin serum ( cegukan sering pada kasus uremia ).

Cegukan pada umumnya bukan merupakan gejala yang serius.
Salah satu penyebabnya yang paling lazim yaitu terangsangnya saraf yang berasal dari saluran makan termasuk lambung.
Bila makan yang tergesa-gesa, makan kering atau tidak cukup kuah tetapi minum juga sedikit, maka saluran makanan atau lambung akan " kewalahan ", akibatnya terjadi peningkatan rangsang pada saraf.
Peningkatan rangsang saraf akan dialirkan ( diteruskan ) menuju cabang-cabang saraf vagus lainnya, termasuk saraf frenikus yang pada gilirannya akan menimbulkan kontraksi pada diafragma dan terjadi cegukan.

Cara sederhana untuk mengatasi cegukan yaitu dengan meminum air bening hangat atau air yang biasa ( tidak dengan pendinginan ) sebanyak 1 gelas besar ( 300 ml ) penuh tanpa ada interval berhenti sampai habis, cegukan pun akan berhenti.

Cara yang lain dengan inspirasi dalam ( tarik napas dalam ) dengan konsentrasi dan diselingi ekspirasi ( mengeluarkan ) napas pelan-pelan lewat mulut diulang selama tiga kali tanpa berhenti dengan irama teratur, bergantian, cegukan juga akan segera berhenti.

Kedua cara ini akan menurunkan rangsang saraf frenikus di diafragma dan otat-otot akan relaksasi.

Rangsang yang kuat juga bisa datang dari jaringan otak, misalnya pada tubuh yang panas ( demam ) tinggi, minum obat-obatan tertentu, radang selaput otak ( meningitis ).

Cara lain lagi dengan menghirup CO2 berkadar tinggi.
Yaitu dengan bernapas dalam kantong plastik atau kertas, dimana orang akan terpaksa menghirup udara dengan kadar CO2 yang tinggi.
Cara ini akan meningkatkan kadar CO2 dalam darah yang pada gilirannya dapat menurunkan rangsang saraf vagus yang menuju ke paru-paru.
Penurunan rangsang ini akan diteruskan ke saraf frenikus, dan dapat menghentikan cegukan.
Cara ini menimbulkan efek sementara yang tidak dapat diandalkan dalam mengatasi cegukan, serta dapat berbahaya.

Cara lain lagi dengan memberikan kejutan atau suatu rangsang yang mengagetkan dilakukan secara mendadak, hal ini akan membuat otak mengalami rangsangan cepat, dan selanjutnya diharapkan kondisi otak dapat tenang kembali.

Metode untuk menenangkan rangsangan pada otak, dapat dilakukan juga dengan memberikan obat-obat penenang.
Dengan cara ini rangsang saraf frenikus yang meninggi dapat diatasi.
Obat-obatan ini penting untuk mengatasi setiap distensi lambung.
Kerja obat dapat sentral atau perfer.
Dalam pemberian obat penenang ini harus seijin dokter, dikarenakan ada juga obat penenang yang justru dapat meningkatkan kontraksi diafragma dan ada juga yang dapat menimbulkan efek samping ekstrapiramidal, terutama pada wanita muda.

Cegukan dapat juga disebabkan oleh kelelahan serabut saraf frenikus akibat menerima energi yang tidak sempurna.
Pada dasarnya semua organ tubuh dan serabut saraf memerlukan glukosa atau " gula " sebagai sumber energi.
Saraf frenikus yang " kelelahan " ini dapat diatasi dengan memberikan minuman air gula ( glukosa ) atau minuman yang mengandung gula, maka cegukan akan segera teratasi.

Cegukan juga dapat diatasi dengan pemberian obat-obatan yang dapat memberikan efek relaksasi otot, maka cegukan yang mengganggu akan reda.

Cara yang lain dengan membuat otot diafragma menjadi relaks.
Misalnya dengan berbaring terlentang dengan relaks, kemudian secara bergantian lutut ditarik sampai ke dagu perlahan-lahan sambil menarik napas.
Aktivitas ini dapat dilakukan berulang-ulang sampai cegukan hilang.

Di daerah Losarang - Indramayu ada suatu anggapan semacam kepercayaan masyarakat setempat, jika anak kecil yang menderita cegukan terus-menerus ( membandel ), biasanya sang ibu menempelkan robekan kecil dari tikar ( ukuran kurang lebih 1 cm x 1 cm ), ditempelkan di dahi yang sebelumnya dibasahi dulu dengan air ludah dari sang ibu, cegukan pun kontan berhenti.
Sayangnya penjelasan ilmiah tentang fenomena aneh ini sampai sekarang belum ada yang memuaskan.
Kemungkinan hal ini hanya efek psikologis saja.

Sebenarnya sebagian besar gejala cegukan yang ditemui umumnya mudah diatasi dengan cara-cara yang relatif sederhana.
Tetapi ada beberapa kasus cegukan yang berasal dari penyakit berat seperti penyakit paru-paru, jantung, hati, ginjal kronis dan penyakit-penyakit berat lainnya yang berasal dari organ-organ tubuh di dalam rongga dada maupun dalam rongga perut.

Jadi jika timbul cegukan terus menerus dan tidak mau berhenti haruslah diwaspadai, bisa saja di dalam tubuh itu ada sesuatu yang kurang beres dan perlu dibereskan.
Sebelum terlambat, periksalah tubuh anda ke dokter, untuk memastikan keadaan tubuh anda.

0 komentar:

Posting Komentar